COIGA BARU

Menu

Menu1

Minggu, 22 Maret 2015

GBK: Metamorfosis Kawasan Hijau Ke Hutan Beton

Sumber Asli -- C0I -Presiden pertama RI, Soekarno membangun Komplek Olahraga Senayan untuk sebuah kegiatan olahraga. Stadion megah berbentuk bulat tersebut dibangun tahun 1958, dengan dana pinjaman lunak dari Rusia sebesar  12,5 juta dolar AS. Pada tahun 1962 stadion berkapasitas 100.000 penonton ini selesai dibangun dan langsung digunakan untuk penyelenggaraan Asian Games 1962.

    Dengan kapasitas stadion 100.000 penonton, maka Stadion Utama Senayan Jakarta ini menjadi satu di antara tiga stadion terbesar saat itu. Dua lainnya ada di Brasil dan Rusia. Hal inilah yang menjadi kebanggaan bagi Indonesia, dimana saat itu prestasi olahraga sepakbola Indonesia juga cukup disegani di negara-negara Asia mapun Eropa.
    Seiring berjalannya waktu, di era Orde Baru komplek olahraga termegah di Jakarta ini mulai kehilangan ruhnya. Geliat pembangunan mulai bangkit di sekelilingnya, sehingga Senayan menjadi kawasan bisnis.
    Kawasan hijau yang dulu menjadi paru-paru kota, kini sudah dikelilingi oleh hutan beton. Sehingga yang tersisa hanya kawasan sempit di sekeliling Stadion Utama Senayan, yang sejak era reformasi lewat Keppres Nomor 7 Tahun 2001 berubah nama menjadi Gelora Bung Karno (GBK) Senayan.
    Dulu GBK menjadi salah satu pusat latihan olahraga yang komplit. Banyak cabang olahraga yang berlatih di lingkungan GBK, baik yang berada dalam ring GBK maupun di lingkar luarnya. Sebut saja Stadion Madya untuk latihan atletik, Stadion indoor dan outdor tenis, lapangan hoki, lapangan panahan, kolam renang, lapangan tembak, gedung bola voli, gedung basket, dan gedung bulutangkis.
    Pelan tapi pasti, entah karena perawatan yang tidak baik sehingga satu persatu GBK mulai ditinggalkan. Banyak cabang olahraga yang memilih latihan di luar komplek GBK Senayan. Dan, banyak pula alasan tidak memakai GBK sebagai tempat latihan karena biaya sewa lapangan yang cukup tinggi, sehingga sangat menyulitkan bagi keuangan pembinaan cabang olahraga.
    Ini menunjukkan bahwa GBK sudah berkamuflase dari yang tadinya tempat pembinaan olahraga menjadi kawasan bisnis yang dikelola oleh pihak setneg. Artinya, setiap kegiatan yang dilakukan di komplek GBK untuk kepentingan olahraga harus mengeluarkan uang.
    Hal ini disadari betul oleh Ketua Satlak Prima Suwarno. Sebagai orang nomor satu dalam penyelenggaraan pemusatan latihan nasional (Pelatnas) SEA Games XXVIII Singapura, ia merasakan jeritan setiap cabor yang melakukan pelatnas di GBK. Dimana setiap jengkal tempat yang digunakan untuk latihan harus dibayar.
    "Sebagai Pembina olahraga saya berharap pemerintah mengembalikan GBK ke fungsi aslinya sesuai cita-cita Bung Karno untuk membangun prestasi olahraga nasional," katanya di Jakarta, kemarin.
    Suwarno mengatakan, masalah fasilitas latihan sering menjadi alasan bagi cabang olahraga kenapa prestasi atletnya tidak bisa maju. Pasalnya, kenyamanan latihan di Senayan sudah tidak didapatkan lagi seperti dahulu kala, sehingga banyak yang memilih latihan di daerah masing-masing.
    "Kita maunya kalau yang namanya sudah pelatnas itu ya menjadi satu sehingga mudah mengawasinya. Tapi yang terjadi sekarang kan tidak seperti itu. Beberapa cabang olahraga ada yang terpencar di beberapa tempat. Wushu misalnya, ada yang di Jakarta dan ada yang di Medan," lanjut Suwarno.
    Pensiunan jenderal bintang dua ini TNI AD ini ingin pemerintah menjadikan GBK menjadi kawasan terpadu olahraga Tanah Air. Karena bagaimana pun di sekeliling Stadion Utama GBK itu sendiri masih banyak yang bisa dimanfaatkan untuk tempat latihan cabang olahraga beladiri. Sementara untuk cabang outdoor seperti panahan, hoki, voli pantai dan lain sebagainya bisa dibangunkan fasilitas dengan standar internasional.
    "Masih banyak lahan yang bisa dimanfaatkan. Tinggal kemauan pemerintah saja apakah mau menyediakan fasilitas untuk membangun olahraga nasional atau tidak," harapnya.
    Mahalnya sewa lapangan juga menjadi perhitungan sendiri bagi cabang olahraga yang ingin latihan di komplek GBK Senayan. Lapangan hoki misalnya, sewa perjam Rp250 ribu. Bila digunakan setiap latihan 2 jam, paling tidak harus mengeluarkan biaya Rp450 ribu – Rp500 ribu. Itu hari biasa. Akhir pekan lain lagi, bisa Rp550 ribu per dua jam. Kalau main malam tambah lagi biaya listrik Rp220 ribu setiap dua jam.
    "Jadi paling tidak hoki kalau latihan rutin setiap hari bisa mengeluarkan dana lebih kurang Rp30 juta satu bulan untuk sewa tempat," kata Ketua Umum Federasi Hoki Indonesia (FHI) Erizal Azhar.
    Itu kalau di luar gedung. Bagaimana kalau di dalam gedung? Wushu DKI Jakarta yang latihan di salah satu ruang lingkar GBK harus membayar sewa Rp250 per dua jam. Setiap kali latihan, wushu biasanya bisa menghabiskan waktu empat jam untuk latihan.
    "Kita memakai sarana latihan di GBK dengan sewa per jam. Ini ketentuan yang sudah dibuat oleh pihak pengelola. Ya, kita ikuti saja," kata Herman Wijaya, pelatih Pelatda wushu PON DKI Jakarta.

- ***
========= Dukungan untuk Cinta Olahraga Indonesia bisa dikirimkan langsung melalui: BANK BCA KCP PALMERAH NO REKENING 2291569317 BANK MANDIRINO REKENING 102-00-9003867-7 =========
-->

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TOP

KAMI dari COI melayani pembuatan PRESS RELEASE atau TULISAN OLAHRAGA dan siap membantu menggelar JUMPA PERS dengan mengundang wartawan media cetak dan televisi sesuai pilihan Anda. CP: 082110068127 atau email ke akumemangcoi@yahoo.com

Pengelola: CV FORTIN MAKMUR SEJAHTERA

Pengelola: CV FORTIN MAKMUR SEJAHTERA