COIGA BARU

Menu

Menu1

Senin, 19 September 2016

Catatan PON XIX/2016 Jawa Barat: Kalau Bulan Bisa Ngomong ....

Oleh: Gungde Ariwangsa 
Sumber Asli -- C0I - Persaingan makin panas. Perbincangan pun makin ramai tentang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 yang kini tengah berlangsung di Jawa Barat. Panasnya persaingan tentu menyangkut perebutan gelar juara umum. Persaingan tiga daerah antara juara bertahan DKI Jakarta, tuan rumah Jawa Barat dan Jawa Timur terus memanas.

            Jabar memang terus unggul. Bahkan sampai Senin (19/9) malam, Jabar sudah mengumpulkan 63 medali emas. Raihan ini mengantar Jabar berada di puncak klasemen perolehan medali. Jakarta menjadi saingan terdekat Jabar. Perolehan emas Jakarta baru mencapai 28. Sedangkan Jatim 26 emas.

            Melihat lejitan itu maka sudah mulai ada pembicaraan bahwa Jabar akan mampu mewujudkan target merebut gelar juara umum. Tetapi pertarungan belum berakhir. Masih panjang persaingan di berbagai cabang olahraga.
            Jika Jabar terus melejit dan tidak terkejar maka persaingan akan beralih untuk memperebutkan posisi kedua antara DKI dan Jatim. Di sini persaingan tetap panas dan sengit. Posisi kedua menjadi lebih berharga karena terjadi antardaerah di luar tuan rumah yang tidak mempunyai berbagai keuntungan. Ini persaingan yang sebenarnya setelah merelakan Jabar menempuh jalannya sendiri dengan caranya sendiri untuk menuju puncak.
            Meskipun demikian melihat derasnya ketidakpuasan yang diungkapkan oleh berbagai daerah maka muncul pertanyaan mengapa begini dan mengapa begitu. Mengapa pelaksanaan PON kali ini harus memunculkan berbagai protes dalam berbagai cabang olahraga. Mulai dari berkuda, paralayang, karate, judo dan lainnya.
            Seakan tidak cukup sampai disitu pertanyaan mengapa begini dan begitu itu bergulir. Pasalnya beberapa pertandingan juga diwarnai kericuhhan. Sepak bola di Bogor diwarnai perang suoprter. Yang paling hangat tentunya kerusuhan di polo air saat Jabar melawan Sumatera Selatan.
            Kerusuhan di polo air ini menjadi pembicaraan hangat. Bukan saja melibatkan pemain kedua tim namun juga suporter. Kemudian beredar video yang menayangkan bagaimana oknum keamanan memihak tuan rumah dengan menendang dan memukul suporter daerah lain.
            Haruskah PON begini? Haruskah PON dibiarkan berjalan dengan menghalalkan berbagai cara? Oh tentu jangan dan tidak boleh. Semua harus mengutamakan nilai sportivitas. Prestasi tanpa sportivitas tidak akan langgeng. Hanya untuk memenuhi kepuasaan sesaat demi citra sesaat pula.
            Kalau bulan bisa ngomong. Maka dia tak akan bohong. Begitu kata penyanyi kondang asal Jawa Barat, Doel Sumbang lewat lagu hitnya yang berjudul “Kalau Bulan Bisa Ngomong.”  Ya, kalau saja bulan bisa ngomong di PON kali ini dan selanjutnya.
***


  • Penulis adalah Wartawan HU Suara Karya, Ketua Harian SIWO PWI Pusat. E-mail: aagwaa@yahoo.com

***
========= Dukungan untuk Cinta Olahraga Indonesia bisa dikirimkan langsung melalui: BANK BCA KCP PALMERAH NO REKENING 2291569317 BANK MANDIRINO REKENING 102-00-9003867-7 =========
-->

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BERITA TOP

KAMI dari COI melayani pembuatan PRESS RELEASE atau TULISAN OLAHRAGA dan siap membantu menggelar JUMPA PERS dengan mengundang wartawan media cetak dan televisi sesuai pilihan Anda. CP: 082110068127 atau email ke akumemangcoi@yahoo.com

Pengelola: CV FORTIN MAKMUR SEJAHTERA

Pengelola: CV FORTIN MAKMUR SEJAHTERA