- Menyusul desakan dari sejumlah tokoh bola dari berbagai daerah, Manager PSPS Pekanbaru, Dastrayani Bibra meminta Kelompok 78 agar tidak terlalu memaksakan diri, sebab keputusan FIFA itu bisa mengancam sepak bola nasional.
FIFA mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Mengabaikan semua kelompok yang bertikai selama ini, demi kepentingan sepak bola nasional. Itu sebuah niat baik. Tapi, "Kalau PSSI diberi sanksi, maka orang yang paling bertanggung jawab adalah kelompok 78," tukas Dastrayani.
Sejumlah tokoh yang dilarang FIFA untuk maju merebut jabatan di PSSI, lanjutnya, sebaiknya mengurungkan niat mereka. "Sudah jelas dilarang FIFA, masih saja ngotot. Harusnya mereka lebih mengedepankan kepentingan jutaan masyarakat Indonesia daripada kepentingan pribadi atau kelompok," ujarnya.
Bila FIFA menjatuhkan sanksi, tanya Bibra, siapa yang akan mengganti kerugian klub yang sudah terlanjur banyak mengeluarkan dana.
"Kami juga mengontrak pemain asing. Sudah banyak dana yang habis. Kalau PSSI disanksi FIFA siapa yang akan ganti kerugian?," cetusnya.
Agar sanksi tak diberikan, ia berharap Komite Normalisasi melobi FIFA. "Kalau memang FIFA merasa dilecehkan, kita harus minta maaf. Bila perlu Menpora atas nama bangsa Indonesia yang meminta maaf kepada FIFA," tegasnya.
Kelompok 78 sendri menyesalkan penghentian kongres yang digelar Jumat pekan lalu itu. Menurut mereka, Ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar, terlalu cepat menutup kongres. Padahal, kata mereka, kongres belum terlalu kisruh. Belum ada adu fisik. Itu sebabnya, sesudah Agum dan direktur FIFA meninggalkan arena hotel, kelompok ini berencana melanjutkan kongres.
Sikap kelompok itu disampaikan oleh juru bicaranya, Yunus Nusi. Menurut pandangannya, dinamika yang tejadi pada Kongres PSSI adalah hal yang biasa, apalagi tidak ada gesekan fisik. "Kami tidak tahu apa alasan Agum meninggalkan Kongres PSSI," kata Yunus dalam jumpa pers di Hotel Sultan, sesudah kongres itu bubar.***
FIFA mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Mengabaikan semua kelompok yang bertikai selama ini, demi kepentingan sepak bola nasional. Itu sebuah niat baik. Tapi, "Kalau PSSI diberi sanksi, maka orang yang paling bertanggung jawab adalah kelompok 78," tukas Dastrayani.
Sejumlah tokoh yang dilarang FIFA untuk maju merebut jabatan di PSSI, lanjutnya, sebaiknya mengurungkan niat mereka. "Sudah jelas dilarang FIFA, masih saja ngotot. Harusnya mereka lebih mengedepankan kepentingan jutaan masyarakat Indonesia daripada kepentingan pribadi atau kelompok," ujarnya.
Bila FIFA menjatuhkan sanksi, tanya Bibra, siapa yang akan mengganti kerugian klub yang sudah terlanjur banyak mengeluarkan dana.
"Kami juga mengontrak pemain asing. Sudah banyak dana yang habis. Kalau PSSI disanksi FIFA siapa yang akan ganti kerugian?," cetusnya.
Agar sanksi tak diberikan, ia berharap Komite Normalisasi melobi FIFA. "Kalau memang FIFA merasa dilecehkan, kita harus minta maaf. Bila perlu Menpora atas nama bangsa Indonesia yang meminta maaf kepada FIFA," tegasnya.
Kelompok 78 sendri menyesalkan penghentian kongres yang digelar Jumat pekan lalu itu. Menurut mereka, Ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar, terlalu cepat menutup kongres. Padahal, kata mereka, kongres belum terlalu kisruh. Belum ada adu fisik. Itu sebabnya, sesudah Agum dan direktur FIFA meninggalkan arena hotel, kelompok ini berencana melanjutkan kongres.
Sikap kelompok itu disampaikan oleh juru bicaranya, Yunus Nusi. Menurut pandangannya, dinamika yang tejadi pada Kongres PSSI adalah hal yang biasa, apalagi tidak ada gesekan fisik. "Kami tidak tahu apa alasan Agum meninggalkan Kongres PSSI," kata Yunus dalam jumpa pers di Hotel Sultan, sesudah kongres itu bubar.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar