Sumber Asli -- C0I -
Gita Wirjawan telah terpilih sebagai ketua umum baru PBSI. Tugas berat
menantinya untuk mengembalikan nama besar bulutangkis Indonesia di mata
dunia.
Olimpiade 2012 di London benar-benar jadi mimpi buruk bagi tim
bulutangkis Indonesia. Merah Putih tanpa medali emas, yang sekaligus
menghentikan tradisi emas sejak Barcelona 1992. Ini tentunya merupakan
catatan terburuk Indonesia di cabang ini sejak bulutangkis
dipertandingkan pertama kali di Olimpiade 20 tahun lalu.
Ketika itu di olimpiade Barcelona 1992, Indonesia meraih dua emas melalui tunggal putra, Alan Budikusuma dan tunggal putri, Susi Susanti. Lalu dilanjutkan di Atlanta 1996 saat pasangan Ricky Subagja/Rexy Mainaky merebut emas, kemudian Tony Gunawan/Candra Wijaya di Sydney 2000, Taufik Hidayat di Athena 2004 dan terakhir Markis Kido/Hendra Setiawan di Beijing 2008. Tak hanya soal catatan medali emas, namun medali secara keseluruhan London 2012 adalah yang terburuk karena setidaknya Indonesia bisa merebut tiga medali di cabang bulutangkis sejak 1992.
Menurut Juara Nasional Tunggal Putra Bulutangkis tahun 1979 Serian Wijatno dalam tulisannya Catatan Untuk Ketua Umum PBSI Yang Baru, harus jujur diakui bahwa faktor kegagalan bulutangkis Indonesia untuk berprestasi di turnamen dan kejuaraan Internasional salah satu adalah karena organisasi yang menaungi olahraga ini yaitu Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Apa yang salah dengan PBSI?
“Tanpa bermaksud melempar kesalahan, tapi tak bisa disangkal jika ada banyak kebijakan PBSI yang alih-alih ingin meningkatkan prestasi malah melemahkan pembinaan bulutangkis seperti misalnya menafikan masukan dan saran dari pihak yang sangat berkompeten seperti mantan-mantan pebulutangkis legendaris ketika PBSI membuat keputusan,” demikian kata Serian Wijatno, dalam bukunya.
“Terkesan PBSI ketika itu membuat kebijakan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, kepentingan-kepentingan tertentu yang notabene tak tersangkut-paut untuk bulutangkis secara maksimal. Masukan-masukan dari mantan pemain bulutangkis atau dari elemen yang lain tidak pernah mereka dengar. Idealnya, pengurus bersikap apa adanya, dan mereka sangat mencintai bulutangkis. Jika ditangani serius, tidak mungkin prestasi bulutangkis Indonesia menjadi seperti ini,” lanjutnya.
Masih dalam tulisannya Mantan CEO Adira Finance dan beberapa bank-bank swasta Nasional, Serian Wijatno melihat Sosok Gita modal untuk pembenahan. Belajar dari itu, PBSI dibawah kepemimpinan Gita diyakini akan mampu menyerap aspirasi para pesohor bulutangkis nasional. Sosok Gita yang sangat demokratis dan tegas dalam kepemimpinan beliau adalah modal untuk bisa membenahi ini semua.
Ia akan mampu menempatkan orang yang tepat untuk mengurusi bulutangkis sehingga tidak ada lagi keluhan terjadinya overlapping kewenangan yang bisa menimbulkan kebijakan yang tidak tepat. Gita akan menjadi sosok yang tepat jika ia mampu mengembalikan kewenangan setiap bidang sesuai tugas pokok dan fungsi, serta fokus mempersiapkan atlet untuk event bulutangkis dunia. Kita tentu tidak ingin merah putih hanya berkibar di dalam negeri saja, tapi juga di dunia internasional.
Dalam konteks pelatih nasional, dalam kapasitasnya selama ini Gita dipastikan mampu meninjau ulang keberadaan pelatih asing di Pelatnas. Di sisi lain, kapasitas Gita yang saat ini menjabat sebagai Menteri Perdagangan yang notabene adalah pembantu Presiden RI, akan mampu memberikan masukan kepada presiden, pemerintah, dan Komisi X DPR, untuk memerhatikan olahraga bulutangkis.
Pendek kata, Gita kalau didukung oleh tokoh-tokoh yang kompeten dalam menangani bulutangkis nasional, bukan tidak mungkin akan mampu menjawab tantangan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia di pentas bulutangkis nasional. Karena tantangan PBSI ke depan masih sama yaitu merebut kembali supremasi bulu tangkis Indonesia.
Optimisme itu bukan tidak beralasan karena ketika Gita terpilih sebagai ketua umum periode 2012-2016 dalam musyawarah nasional (munas) di Yogyakarta, telah menyatakan tekad untuk fokus pada kesejahteraan atlet, profesionalisasi bulu tangkis serta mendorong peningkatan kapasitas dan pembinaan atlet agar dapat meraik kembali kejayaan bulu tangkis Indonesia.
"Tentunya dengan dukungan seluruh pihak, saya berharap dapat menjalankan amanat ini sebaik mungkin dan berupaya keras dalam memajukan perbulutangkisan nasional," kata Gita ketika itu.
Sebagai mantan atlet bulutangkis nasional, saya menaruh harapan besar bahwa Gita Wiryawan akan mampu menjawab tantangan dan memajukan perbulutangkisan nasional.
Ketika itu di olimpiade Barcelona 1992, Indonesia meraih dua emas melalui tunggal putra, Alan Budikusuma dan tunggal putri, Susi Susanti. Lalu dilanjutkan di Atlanta 1996 saat pasangan Ricky Subagja/Rexy Mainaky merebut emas, kemudian Tony Gunawan/Candra Wijaya di Sydney 2000, Taufik Hidayat di Athena 2004 dan terakhir Markis Kido/Hendra Setiawan di Beijing 2008. Tak hanya soal catatan medali emas, namun medali secara keseluruhan London 2012 adalah yang terburuk karena setidaknya Indonesia bisa merebut tiga medali di cabang bulutangkis sejak 1992.
Menurut Juara Nasional Tunggal Putra Bulutangkis tahun 1979 Serian Wijatno dalam tulisannya Catatan Untuk Ketua Umum PBSI Yang Baru, harus jujur diakui bahwa faktor kegagalan bulutangkis Indonesia untuk berprestasi di turnamen dan kejuaraan Internasional salah satu adalah karena organisasi yang menaungi olahraga ini yaitu Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Apa yang salah dengan PBSI?
“Tanpa bermaksud melempar kesalahan, tapi tak bisa disangkal jika ada banyak kebijakan PBSI yang alih-alih ingin meningkatkan prestasi malah melemahkan pembinaan bulutangkis seperti misalnya menafikan masukan dan saran dari pihak yang sangat berkompeten seperti mantan-mantan pebulutangkis legendaris ketika PBSI membuat keputusan,” demikian kata Serian Wijatno, dalam bukunya.
“Terkesan PBSI ketika itu membuat kebijakan hanya untuk kepentingan mereka sendiri, kepentingan-kepentingan tertentu yang notabene tak tersangkut-paut untuk bulutangkis secara maksimal. Masukan-masukan dari mantan pemain bulutangkis atau dari elemen yang lain tidak pernah mereka dengar. Idealnya, pengurus bersikap apa adanya, dan mereka sangat mencintai bulutangkis. Jika ditangani serius, tidak mungkin prestasi bulutangkis Indonesia menjadi seperti ini,” lanjutnya.
Masih dalam tulisannya Mantan CEO Adira Finance dan beberapa bank-bank swasta Nasional, Serian Wijatno melihat Sosok Gita modal untuk pembenahan. Belajar dari itu, PBSI dibawah kepemimpinan Gita diyakini akan mampu menyerap aspirasi para pesohor bulutangkis nasional. Sosok Gita yang sangat demokratis dan tegas dalam kepemimpinan beliau adalah modal untuk bisa membenahi ini semua.
Ia akan mampu menempatkan orang yang tepat untuk mengurusi bulutangkis sehingga tidak ada lagi keluhan terjadinya overlapping kewenangan yang bisa menimbulkan kebijakan yang tidak tepat. Gita akan menjadi sosok yang tepat jika ia mampu mengembalikan kewenangan setiap bidang sesuai tugas pokok dan fungsi, serta fokus mempersiapkan atlet untuk event bulutangkis dunia. Kita tentu tidak ingin merah putih hanya berkibar di dalam negeri saja, tapi juga di dunia internasional.
Dalam konteks pelatih nasional, dalam kapasitasnya selama ini Gita dipastikan mampu meninjau ulang keberadaan pelatih asing di Pelatnas. Di sisi lain, kapasitas Gita yang saat ini menjabat sebagai Menteri Perdagangan yang notabene adalah pembantu Presiden RI, akan mampu memberikan masukan kepada presiden, pemerintah, dan Komisi X DPR, untuk memerhatikan olahraga bulutangkis.
Pendek kata, Gita kalau didukung oleh tokoh-tokoh yang kompeten dalam menangani bulutangkis nasional, bukan tidak mungkin akan mampu menjawab tantangan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia di pentas bulutangkis nasional. Karena tantangan PBSI ke depan masih sama yaitu merebut kembali supremasi bulu tangkis Indonesia.
Optimisme itu bukan tidak beralasan karena ketika Gita terpilih sebagai ketua umum periode 2012-2016 dalam musyawarah nasional (munas) di Yogyakarta, telah menyatakan tekad untuk fokus pada kesejahteraan atlet, profesionalisasi bulu tangkis serta mendorong peningkatan kapasitas dan pembinaan atlet agar dapat meraik kembali kejayaan bulu tangkis Indonesia.
"Tentunya dengan dukungan seluruh pihak, saya berharap dapat menjalankan amanat ini sebaik mungkin dan berupaya keras dalam memajukan perbulutangkisan nasional," kata Gita ketika itu.
Sebagai mantan atlet bulutangkis nasional, saya menaruh harapan besar bahwa Gita Wiryawan akan mampu menjawab tantangan dan memajukan perbulutangkisan nasional.
-
***
================================================
* Bila ada saran, masukan, kritik atau informasi dan kasus yang ingin diangkat dan ditulis jangan segan-segan layangan pemikiran dan informasi Anda ke email: akumemangcoi@yahoo.com. Jangan lupa sertakan no hp. Trims.
================================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar