-Wakil ketua panitia Effendi Soen mengatakan selain kejuaraan yang diikuti negara anggota Asiania, juga digelar kejuaraan terbuka internasional. “Sehingga juga ada peserta dari Belgia, Kanada, dan Polandia,” kata Effendi dalam jumpa pers, Sabtu (3/7) sore.
Nomor yang dipertandingkan adalah ketepatan mendarat setelah sebelumnya penerjun terjun dari ketinggian seribu meter. Kemudian kerjasama di udara yang akan dilakukan empat orang penerjun dari ketinggian 3 ribu meter. “Bentuk kerjasamanya dengan membuat formasi terbanyak dan bagus dalam waktu 35 detik,” jelas Effendi.
Terakhir, kerjasama antara parasut yang dilakukan dua orang penerjun. Penerjun dilepas pesawat dari ketinggian dua ribu meter. Jumlah peserta sebanyak 170 orang, dengan 60 persen diantaranya mengikuti nomor ketepatan mendarat. “Yang paling sulit kerjasama antar parasut. Hanya 15 persen peserta yang ikut,” tambahnya.
Komandan Landasan Udara Adi Soemarmo Solo Kolonel (Pnb) Hadi Cahyanto mengatakan kejuaraan tersebut baru pertama kali diselenggarakan di Jawa Tengah. “Lokasi lomba di kompleks bandara lama Adi Soemarmo,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, kejuaraan tersebut diharapkan mendorong berkembangnya olahraga dirgantara, khususnya terjun payung di Indonesia.”Sekaligus mencari bibit-bibit atlet penerjun payung baru,” tuturnya. Panitia juga mengadakan terjun payung boogie atau terjun hura-hura dengan cara tandem. “Rencananya tanggal 9 Juli di Prambanan,” katanya.***
Nomor yang dipertandingkan adalah ketepatan mendarat setelah sebelumnya penerjun terjun dari ketinggian seribu meter. Kemudian kerjasama di udara yang akan dilakukan empat orang penerjun dari ketinggian 3 ribu meter. “Bentuk kerjasamanya dengan membuat formasi terbanyak dan bagus dalam waktu 35 detik,” jelas Effendi.
Terakhir, kerjasama antara parasut yang dilakukan dua orang penerjun. Penerjun dilepas pesawat dari ketinggian dua ribu meter. Jumlah peserta sebanyak 170 orang, dengan 60 persen diantaranya mengikuti nomor ketepatan mendarat. “Yang paling sulit kerjasama antar parasut. Hanya 15 persen peserta yang ikut,” tambahnya.
Komandan Landasan Udara Adi Soemarmo Solo Kolonel (Pnb) Hadi Cahyanto mengatakan kejuaraan tersebut baru pertama kali diselenggarakan di Jawa Tengah. “Lokasi lomba di kompleks bandara lama Adi Soemarmo,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, kejuaraan tersebut diharapkan mendorong berkembangnya olahraga dirgantara, khususnya terjun payung di Indonesia.”Sekaligus mencari bibit-bibit atlet penerjun payung baru,” tuturnya. Panitia juga mengadakan terjun payung boogie atau terjun hura-hura dengan cara tandem. “Rencananya tanggal 9 Juli di Prambanan,” katanya.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar