Sumber Asli -- C0I -
Kegagalan
kontingen Indonesia mempertahankan tradisi emas di Olimpiade London
2012 mendapat perhatian serius dari KONI Pusat. Bahkan, induk organisasi
olahraga amatir yang dipimpin Tono Suratman ini sudah mengajukan
restrukturisasi kepengurusan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas
(Satlak Prima).
Sayangnya, usulan tersebut tidak dipenuhi Menpora Andi Alifian Mallarangeng.
"KONI Pusat itu telah mengajukan restrukturisasi Satlak Prima karena
kegagalan kontingen Indonesia mempertahankan tradisi emas di London.
Tetapi, usulan itu sampai sekarang belum dipenuhi Menpora," kata Ketua
Bidang Mobilisasi Sumber Daya KONI Pusat Erwin Ricardo Silalahi di
sela-sela acara Rapat Koordinasi KONI Pusat bersama seluruh KONI
Provinsi di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Senin (26/11).
Menurut Erwin, Satlak Prima itu seharusnya di bawah kendali KONI Pusat,
yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah yang bertanggung jawab
terhadap pembinaan olahraga nasional, sedangkan pemerintah sendiri hanya
bertugas mengawasi pelaksanaan Prima."Soal pengelolaan Prima ini perlu
ada ketegasan dari Menpora, sehingga KOI tidak lagi ikut ambil bagian
lagi.
Fungsi KOI itu kan sudah jelas, yakni sebagai administrasi atau event
organizer (EO) yang menangani pendaftaran dan keberangkatan kontingen
Indonesia yang akan berlaga di multievent SEA Games, Asian Games, dan
Olimpic Games," kata Erwin.
Dengan diserahkan pengelolaan Prima kepada KONI, lanjut Erwin, fungsi
KONI lebih jelas dan sesuai dengan aturan yang berlaku sebelum
terjadinya pemisahan KONI dan KOI, yakni KONI yang menjadi perpanjangan
tangan ke pemerintah dan sebagai pintu terakhir untuk menentukan atlet
yang bakal diberangkatkan ke multievent.
Acara yang dihadiri 22 KONI Provinsi dan 18 pengurus induk organisasi
olahraga (PP/PB) ini digelar dalam rangka menghadapi acara Rembuk
Nasional di Kaltim, 7-9 Desember 2012. "Fungsi KONI dan KOI selama ini
semakin tidak jelas setelah lahirnya Undang Undang Sistem Keolahragaan
Nasional (UU SKN) Nomor 3 Tahun 2005.
Makanya, kita menggelar Rembuk Nasional untuk memperjelas fungsi KONI,"
kata Erwin Ricardo, yang juga Ketua Panitia Pelaksana acara yang
digelar selama dua hari tersebut. Sebagai contoh, Erwin menyebut KONI
hanya mendapat bantuan dana untuk kegiatan saja.
"Bagaimana KONI bisa menciptakan atlet berprestasi kalau pemerintah
mengeluarkan anggaran dengan sistem reimburse jika ada kegiatan.
Tindakan ini sama saja membonsai fungsi KONI apalagi dengan adanya
edaran Mendagri yang melarang pejabat publik menjadi ketua KONI
Provinsi," tuturnya.
Dalam acara Rembug Nasional itu, KONI Pusat juga menggelar Award yang
akan memberikan penghargaan kepada atlet dan pelatih berprestasi di
Olimpiade. "Pada award pertama ini memang khusus kepada atlet dan
pelatih berprestasi di Olimpiade, tetapi *award* selanjutnya akan
dikembangkan lagi," kata Ketua KONI Pusat Tono Suratman, yang membuka
secara resmi Bantuan Rapat Koordinasi KONI Pusat bersama seluruh KONI
provinsi dan anggota.

-
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar