COIGA BARU

Menu1

Pencarian

Selasa, 21 Mei 2013

Antara Riau dan Jakarta

 Oleh: Gungde Ariwangsa *
 
Sumber Asli -- C0I - Pilih mana Riau atau Jakarta? Kalau mau mencari es laksamana mengamuk, lempok durian atau sekalian membelah durian tentu akan memilih Riau. Namun jika ingin asinan, kerak telor atau buah kecapi ya pasti memilih Jakarta. Sayang pilihan ini bukan menyangkut masalah makanan tetapi ini soal penting dan genting yang memakan uang ratusan miliaran rupiah, mengenai nama baik daerah dan tentunya juga nama baik bangsa dan negara Indonesia di forum internasional.


            Apalagi kalau bukan soal tuan rumah Islamic Solidarity Games (ISG) III. Pesta olahraga antarnegara Islam ini sekarang seperti menggantung setelah tidak ada kepastian apakah akan tetap dilaksanakan di Riau atau dipindah ke Jakarta. Padahal, waktu pelaksanaan ISG sudah semakin mendekat, 22 September – 1 Oktober nanti setelah diundur dari waktu semula, 6-17 Juni.  
            Semula, ISG seperti akan aman-aman saja dilaksanakan di Riau setelah Bumi Lancang Kuning sukses menggelar Pekan Olahrana Nasional  (PON) 2012 dengan segala keterbatasan dan permasalahan yang mengikutinya. ISG seperti satu paket dengan pelaksanaan PON. Sudah begitu delegasi ISSF (Islamic Solidarity Sport Federation) beberapa kali melakukan kunjungan ke Riau dan menyatakan daerah itu siap menjadi penyelenggara. Keputusan Presiden (Keppres) No.15 tahun 2012  dikeluarkan untuk menetapkan Riau sebagai tuan rumah ISG  III.
            Namun ketenangan itu tiba-tiba sontak dengan adanya perkembangan mengejutkan di  Riau. Kontraktor pembangunan menyegel dua arena utama karena terbelit  utang Rp 200 miliar. Kemudian Gubernur Riau Rusli Zainal yang  Ketua Pelaksana ISG  ditetapkan  sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Permasalahan ini mengusik perhatian pemerintah tentang kelayakan Riau untuk menjadi tuan rumah ISG III.
            Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo semula menetapkan tiga opsi untuk penyelenggaraan ISG. Pertama, tetap di Riau dengan waktu penyelenggaraan juga tetap. Kedua, tetap di Riau namun waktu penyelenggaraan ditunda. Ketiga, penyelenggaraan dipindah dari Riau. Dalam langkah terakhir, Menpora akhirnya mengambil keputusan frontal memindahkan ISG ke Jakarta.
Seiring dengan itu Menpora bergerak cepat dengan melakukan pertemuan dengan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Hasil pertemuan menghasilkan penegasan Jokowi, Jakarta siap menjadi tuan rumah ISG. Itu demi menyelamatkan nama bangsa dan negara.
            Tentu hal itu menimbulkan reaksi keras dari Riau. Mulailah Gubernur Riau dan jajaran pantia ISG Riau melakukan upaya untuk membatalkan rencana Menpora itu. Tetapi rapat koordinasi bidang di Kantor Menteri Kesejahteraan Rakyat dan juga kunjungan delegasi Menko Kesra ke Riau belum mampu membuat keputusan. ISG tetap menggantung di awang-awang. Panitia Riau dan Menpora pun terus tarik ulur.
            Sampoai kapan ketidakpastian akan berlanjut? Pemerintah seharusnya segera mengambil keputusan yang pasti dengan segala resiko yang harus dihadapi. Tidak menunda-menunda karena ada nama bangsa dipertaruhkan di sini.
            Bisa tetap di Riau dengan waktu penyelenggaraan ditunda lagi hingga usai SEA Games Myanmar. Dipindahkan ke Jakarta juga dengan waktu yang ditunda. Atau alternatif sama-sama senang, Riau dan Jakarta menjadi tuan rumah bersama seperti pelaksanaan SEA Games 2011 lalu antara Palembang dan Jakarta.
            Apa pun opsi yang akan diambil,  langkah Menpora “mengultimatum” pemindahan ISG itu selayaknya ditanggapi dengan pikiran positif. Ini bukan untuk kepentingan Riau dan Jakarta  namun memiliki implikasi besar untuk olahraga Indonesia. Ultimatum Menpora menjadikan pelajaran, menyelenggarakan kejuaraan atau multievent olahraga di Tanah Air tidak bisa main-main.
            Semua pihak yang mendapat kepercayaan harus bekerja serius dan bersih sehingga penyelenggaraan event olahraga itu sudah siap jauh-jauh hari. Pemerintah dengan  dukungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) sudah saatnya membuat standar pasti tentang pelaksanaan event olahraga di Indonesia.
            Misalkan, untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) tuan rumah sudah siap satu tahun sebelumnya. Kemudian untuk pelaksanaan SEA Games atau multievent regional lainnya harus sudah ready dua tahun sebelumnya. Standar ini sudah berlaku dalam pelaksanaan event internasional seperti Asian Games dan Olimpiade. Dengan standar ini maka olahraga bukan lagi menjadi permainan yang bisa dimainkan sekehendak hati. ***


 * Tulisan dimuat di HU Suara Karya, Edisi Selasa, 21 Mei 2013

- ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KAMI dari COI melayani pembuatan PRESS RELEASE atau TULISAN OLAHRAGA dan siap membantu menggelar JUMPA PERS dengan mengundang wartawan media cetak dan televisi sesuai pilihan Anda. CP: 087783358784 atau email ke aagwaa@yahoo.com

TERPOPULER COI