Sumber Asli -- C0I -
Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia
(PP Pordasi) mengggugat Komite Olimpiade Indonesia (KOI) lewat Badan
Arbitrase Keolahragaan Indonesia (BAKI).
Pordasi menilai KOI bertanggung jawab atas hilangnya hak keanggotaan di Federasi Equestrian Internasional (FEI). Hak Pordasi, yang sudah didapat sejak 1975, hilang setelah KOI merekomendasikan Federasi Equestrian Indonesia (EFI) pada Maret 2010.
Pordasi dan KOI telah berulangkali mengambil langkah diplomatis untuk menyelesaikan masalah ini namun gagal mencapai kesepakatan. Pordasi berharap masalah ini bisa benar-benar selesai lewat BAKI dan bersedia menerima apapun keputusan finalnya.
Sebelumnya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo menyatakan akan menyerahkan penyelesaian masalah ini lewat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Menurut Menpora, ada kemungkinan penyelesaian dualisme olahraga yang mengutamakan estetika dalam menunggang kuda itu ditempuh lewat Musyawarah Nasional (Munas).
Kabar yang beredar, nama Mayjen Agus Sutomo, yang merupakan Danjen Kopassus, disiapkan sebagai ketua umum baru.
"Saya sudah berbicara dengan teman-teman dari EQINA. Mereka datang ke kantor dan memberi banyak masukan. Saya juga berbicara panjang lebar dengan ibu Triwatty Marciano dan teman-teman dari EFI," papar Roy Suryo.
Dualisme muncul setelah FEI meminta kepada Indonesia agar cabang equestrian berada di bawah organisasi tersendiri. Di Indonesia, cabang-cabang berkuda seperti balap kuda, polo hingga ternak, termasuk juga equestrian, dikelola oleh komisi masing-masing di bawah satu payung PP Pordasi.
Ini menyebabkan rekomendasi Menpora agar masalah ini diselesaikan oleh KONI mendapat tentangan dari kubu Pordasi dan EQINA. Menurut mereka, masalah equestrian harus diselesaikan di level Pordasi.
Rekomendasi Menpora, menurut kubu Pordasi-EQINA, tidak adil karena KONI-lah yang memberikan pengakuan terhadap EFI dan menolak EQINA. Pordasi sendiri masih tercatat sebagai anggota KOI maupun KONI.
Karena itu, Ketua Umum Eqina, Jose Rizal Partokusumo dan Sekjen Ardi Hapsoro Hamidjoyo, mengingatkan agar penyelesaian masalah ini tetap berada di lingkup masyarakat equestrian di Indonesia.
"Biarkan komunitas equestrian menentukan pilihannya sendiri apakah masih berafiliasi kepada Pordasi atau independen, hormatilah Pordasi sebagai organisasi yang sah serta hargailah jasa para senior dan pendahulu kita yang telah meletakkan sejarah olahraga berkuda di Indonesia melalui Pordasi," kata Jose.
"Tapi, harus siap juga kalau keputusannya tetap di Pordasi, ya semua harus terima. Begitu juga sebaliknya," Ardi menimpali.
EFI diklaim cacat hukum
EFI, diakui sesepuh EQINA, Alexander Benyamin, memang organisasi equestrian yang berdiri lebih dulu dari EQINA. EFI didirikan pada 2009 oleh sembilan orang, termasuk Alex. Tujuannya adalah memajukan equestrian, yang saat itu belum fokus digarap Pordasi.
Namun dalam perkembangannya, empat pendiri, yakni Alex, Ardi, Triyusni Prawiro dan Rafiq Hakim Radinal memutuskan keluar karena merasa EFI hanya mengutamakan kepentingan kelompok tertentu.
"Bahwa saat ini EFI telah diterima sebagai anggota KONI (pada tahun 2013), kita tahu bahwa prosesnya cacat hukum karena KONI memaksakan mengubah persyaratan keanggotaan dan mengabaikan keberadaan Pordasi yang notabene juga anggota sah KONI," jelas pemilik Santamonica stable itu.
Persyaratan tersebut antara lain memiliki pengurus di tingkat Provinsi. Kekurangan ini pula yang memicu lahirnya EQINA pada Desember 2012 oleh klub-klub dari Komunitas Equestrian Indonesia. Permintaan mereka agar EFI menggelar musyawarah nasional tidak direspon.
"Saudara Prasetyono Sumiskum dan saudara Fernando Manulang pada November 2012 mengatakan anggota Klub-Klub Equestrian bukan anggota EFI, anggota EFI hanya 9 Orang Pendiri EFI. karena itulah Komunitas Equestrian Indonesia menggelar Munas Equestrian Indonesia pada 14 Desember 2012, yang melahirkan EQINA," jelas Ardi.
Sedangkan anggota dewan pembina EFI, Teuku Riefky Harsya, sebelumnya menjelaskan bahwa munculnya EQINA dilatarbelakangi oleh pihak-pihak yang tidak puas terhadap seleksi Timnas SEA Games 2011 lalu.
“Pihak-pihak yang tidak puas tadi membentuk perkumpulan equestrian baru, membuat musyawarah nasional dan mendeklarasikan diri ingin kembali dibawah Pordasi serta menamakan diri Eqina," Riefky menutup.

Pordasi menilai KOI bertanggung jawab atas hilangnya hak keanggotaan di Federasi Equestrian Internasional (FEI). Hak Pordasi, yang sudah didapat sejak 1975, hilang setelah KOI merekomendasikan Federasi Equestrian Indonesia (EFI) pada Maret 2010.
Pordasi dan KOI telah berulangkali mengambil langkah diplomatis untuk menyelesaikan masalah ini namun gagal mencapai kesepakatan. Pordasi berharap masalah ini bisa benar-benar selesai lewat BAKI dan bersedia menerima apapun keputusan finalnya.
Sebelumnya, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo menyatakan akan menyerahkan penyelesaian masalah ini lewat Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat. Menurut Menpora, ada kemungkinan penyelesaian dualisme olahraga yang mengutamakan estetika dalam menunggang kuda itu ditempuh lewat Musyawarah Nasional (Munas).
Kabar yang beredar, nama Mayjen Agus Sutomo, yang merupakan Danjen Kopassus, disiapkan sebagai ketua umum baru.
"Saya sudah berbicara dengan teman-teman dari EQINA. Mereka datang ke kantor dan memberi banyak masukan. Saya juga berbicara panjang lebar dengan ibu Triwatty Marciano dan teman-teman dari EFI," papar Roy Suryo.
Dualisme muncul setelah FEI meminta kepada Indonesia agar cabang equestrian berada di bawah organisasi tersendiri. Di Indonesia, cabang-cabang berkuda seperti balap kuda, polo hingga ternak, termasuk juga equestrian, dikelola oleh komisi masing-masing di bawah satu payung PP Pordasi.
Ini menyebabkan rekomendasi Menpora agar masalah ini diselesaikan oleh KONI mendapat tentangan dari kubu Pordasi dan EQINA. Menurut mereka, masalah equestrian harus diselesaikan di level Pordasi.
Rekomendasi Menpora, menurut kubu Pordasi-EQINA, tidak adil karena KONI-lah yang memberikan pengakuan terhadap EFI dan menolak EQINA. Pordasi sendiri masih tercatat sebagai anggota KOI maupun KONI.
Karena itu, Ketua Umum Eqina, Jose Rizal Partokusumo dan Sekjen Ardi Hapsoro Hamidjoyo, mengingatkan agar penyelesaian masalah ini tetap berada di lingkup masyarakat equestrian di Indonesia.
"Biarkan komunitas equestrian menentukan pilihannya sendiri apakah masih berafiliasi kepada Pordasi atau independen, hormatilah Pordasi sebagai organisasi yang sah serta hargailah jasa para senior dan pendahulu kita yang telah meletakkan sejarah olahraga berkuda di Indonesia melalui Pordasi," kata Jose.
"Tapi, harus siap juga kalau keputusannya tetap di Pordasi, ya semua harus terima. Begitu juga sebaliknya," Ardi menimpali.
EFI diklaim cacat hukum
EFI, diakui sesepuh EQINA, Alexander Benyamin, memang organisasi equestrian yang berdiri lebih dulu dari EQINA. EFI didirikan pada 2009 oleh sembilan orang, termasuk Alex. Tujuannya adalah memajukan equestrian, yang saat itu belum fokus digarap Pordasi.
Namun dalam perkembangannya, empat pendiri, yakni Alex, Ardi, Triyusni Prawiro dan Rafiq Hakim Radinal memutuskan keluar karena merasa EFI hanya mengutamakan kepentingan kelompok tertentu.
"Bahwa saat ini EFI telah diterima sebagai anggota KONI (pada tahun 2013), kita tahu bahwa prosesnya cacat hukum karena KONI memaksakan mengubah persyaratan keanggotaan dan mengabaikan keberadaan Pordasi yang notabene juga anggota sah KONI," jelas pemilik Santamonica stable itu.
Persyaratan tersebut antara lain memiliki pengurus di tingkat Provinsi. Kekurangan ini pula yang memicu lahirnya EQINA pada Desember 2012 oleh klub-klub dari Komunitas Equestrian Indonesia. Permintaan mereka agar EFI menggelar musyawarah nasional tidak direspon.
"Saudara Prasetyono Sumiskum dan saudara Fernando Manulang pada November 2012 mengatakan anggota Klub-Klub Equestrian bukan anggota EFI, anggota EFI hanya 9 Orang Pendiri EFI. karena itulah Komunitas Equestrian Indonesia menggelar Munas Equestrian Indonesia pada 14 Desember 2012, yang melahirkan EQINA," jelas Ardi.
Sedangkan anggota dewan pembina EFI, Teuku Riefky Harsya, sebelumnya menjelaskan bahwa munculnya EQINA dilatarbelakangi oleh pihak-pihak yang tidak puas terhadap seleksi Timnas SEA Games 2011 lalu.
“Pihak-pihak yang tidak puas tadi membentuk perkumpulan equestrian baru, membuat musyawarah nasional dan mendeklarasikan diri ingin kembali dibawah Pordasi serta menamakan diri Eqina," Riefky menutup.
-
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar