Sumber Asli -- C0I - JAKARTA – Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) prihatin
melihat hasil seleksi nasional yang tidak mencerminkan kekuatan terbaik di
Tanah Air saat ini. Untuk itu PB PTMSI mengharapkan Satuan Pelaksanan Program
Indonesia Emas (Satlak Prima) secara bijaksana mengkaji hasil seleknas itu demi
nama baik Indonesia di tingkat internasional dan juga agar tidak mematikan
harapan para pemain dalam meraih prestasi terbaik.
“Ya saya
prihatin dengan hasil seleknas yang dilaksanakan Satuan Pelaksana (Satlak)
Prima di Karanganyar, 3-5 Desember lalu. Pemain yang terpilih, khususnya di
bagian putri bukan mencerminkan kekuatan terbaik tenis meja Indonesia saat ini,” ujar Sekretaris Jenderal PB
PTMSI, Robert Hermawan menjawab pertanyaan wartawaan saat dijumpai di Gedung
KONI Pusat, Senayan, Jakarta,
Rabu (7/12).
Menurut
Robert, hal tersebut terjadi karena dalam proses pemanggilan pemain untuk
mengikuti seleksi tidak murni diserahkan kepada PB PTMSI. Padahal PB PTMSI
melalui surat Nomor 51/PB PTMSI/X/2016
tertanggal 23 November 2016, telah mengajukan nama-nama pemain terbaik Indonesia
saat ini untuk tampil dalam seleksi itu. Namun hal itu tidak diakomodir dengan
karena Satlak Prima menyerahkan pemanggilan pemain kepada Panitia Seleknas yang
dipimpin Toni Meringgi.
“Dalam
daftar yang kami ajukan, semua pemain terbaik Indonesia yang merupakan
juara-juara Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016, Kejurnas 2015, dan
turnamen-turnamen lainnya termasuk juga hasil SEA Games 2015 dan SEATA 2014
kami masukan. Tetapi itu tidak diterima sehingga hasil seleknas jauh dari
harapan. Juga Seleknas dilakukan tidak memakai sistem round robin namun dengan
sistem pool,” ucap Robert.
Nama-nama
yang diajukan PB PTMSI untuk putra adalah Ficky Supit, Gilang Maulana, Bima
Abdi Negara, Lucky Oktora Pemanda, Syafri Setiawan, Hendra P Wijaya, Muhamad
Arda, Dahlan Harun, Fernado Palar, Taufik Zikri, Lucky Purkanie, Yulius Dwi
Cahyo dan M Zahru Nailu. Sedangkan untuk putri terdiri dari Christine Ferliani,
Gustin Dwi Jayanti, Reza Amanda, Widya Wulansari , Kharisma Nur Hawwa, Amanda
Nurhoir R, Rina Sintya, Mira Fitria, Winda Dwi Rahayu, Noor Azizah Dwi Agustin
dan Stella Friska Palit.
Mengingat
para pemain hasil seleknas akan membela tim nasional untuk kejuaraan SEATA
(South East Asia Table Tennis Association) dan juga menjadi cikal bakal ke SEA
Games 2017 maka Robert berharap Satlak Prima mengkaji ulang usulan nama-nama
pemain hasil seleknas itu. Selain itu Satlak dalam memanggil pemain
mempercayakan kepada PB PTMSI yang lebih mengetahui kondisi dan perkembangan
prestasi pemain. Selain itu juga Satlak Prima menghargai keberadaan induk organisasi
cabang olahraga.
“Kami ingin
yang membela tim nasional itu mencerminkan kekuatan pemain terbaik Indonesia
saat ini. Ini demi nama baik Merah Putih. Juga untuk mengutamakan kepentingan
atlet tenis meja yang sudah berlatih keras selama ini,” tutur Robert yang
didampingi Wakil Bendahara PB PTMSU, Ronny Iswandi.
Dalam
bagian lain, PB PTMSI juga meminta kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia
(KONI) Pusat menegor KONI Sulawesi Selatan yang telah bertindak mengeluarkan
dua surat rekomendasi kepada induk organisasi tenis meja di Indonesia. Dengan
tindakan itu KONI Sulsel telah melanggar instruksi KONI Pusat yang hanya
mengakui keberadaan PB PTMSI. Selain itu, KONI Sulsel juga makin memperuncing
perpecahan tenis meja di daerah dan ditakutkan bisa menyebar ke daerah-daerah
lain.
“Sebagai
anggota KONI Pusat maka KONI Sulsel seharusnya mentaati aturan dari KONI Pusat.
Yang diakui KONI Pusat itu PB PTMSI bukan PP PTMSI. Karena itu KONI Pusat perlu
menegor dan menindak anggotanya yang tidak taat aturan organisasi,” jelas
Robert. (COI-1)
***
=========
Dukungan untuk Cinta Olahraga Indonesia bisa dikirimkan langsung melalui:
BANK BCA KCP PALMERAH NO REKENING 2291569317
BANK MANDIRINO REKENING 102-00-9003867-7
=========
Tidak ada komentar:
Posting Komentar