![]() |
| Presiden JMFC, H Heru Pujihartono (kanan) didampingi Sekjen JMFC, Tubagus Adhi |
Sumber Asli -- C0I - Mundur dan bubar namun bukan berarti mati. Jakarta Matador
Football Club (JMFC) mundur dari PSSI dan lalu membubarkan diri justru untuk
melangkah empat langkah lebih maju di masa depan. Begitulah keterangan
manajemen JMFC soal keputusan mengejutkan yang diambilnya disaat pergantian
kepengurusan di PSSI.
Jakarta
Matador Football Club (JMFC) mundur dari keanggotaan Persatuan Sepakbola
Seluruh Indonesia (PSSI). Kemudian klub sepakbola yang membina tim putra dan
putri itu langsung membubarkan diri. Sebuah keputusan yang mengagetkan,
mengejutkan sekaligus menimbulkan tanda tanya besar.
Mengejutkan
tentunya karena JMFC yang dikomandoi Presiden H Heru Pujihartono sejak tahun
2009 begitu aktif dan agresif dalam membangun kekuatan untuk membuktikan
eksistensinya di kancah sepakbola nasional. Itu dilakukan di kelompok putra dan
putri. Hasilnya, putra JMFC masuk Divisi I dan tim putri JMFC menjelma menjadi
kekuatan yang diperhitungkan.
Lebih
mengejutkan lagi karena keputusan mundur dan membubarkan diri JMFC itu diambil
di awal tahun 2017. Waktu, saat awal langkah kepengurusan baru PSSI yang
dipimpin Ketua Umum Edy Rahmayadi mulai melakukan pembenahan pada organisasi
tertinggi sepakbola di Tanah Air itu. Termasuk menata jenjang kompetisi.
Tidak pelak
lagi langkah JMFC menimbulkan berbagai tanya besar. Ada apa? Kenapa H Heru Pujihartono memberi
komando mundur dan bubar ketika terjadi pergantian kepengurusan di PSSI dari
Ketua Umum La Nyalla Mattalitti ke Edy Rahmayadi? Adakah ini merupakan langkah
mengkritisi PSSI Edy Rahmayadi dalam mengelola jenjang kompetisi? Ataukah
justru lebih ekstrim lagi, anti PSSI?
Heru
Pujihartono dengan gaya
bahasa yang tegas dan meledak-ledak menjawab berbagai tanya penasaran itu Jumat
(13/1/2017). Bertempat di sebuah resto di Senayan, Jakarta, di hadapan puluhan
wartawan media cetak, eletronik dan online, Heru yang didampingi Sekjen JMFC
Tubagis Adhi dan CEO JMFC Agus Susanto, buka-bukaan soal mundur dan bubarnya
serta masa depan klub yang tumbuh dan besar di Jakarta itu.
Mengenakan
seragam resmi JMFC berwana putih, Heru dengan tegas menyatakan, keputusan
mundur dan pembubaran klubnya bukanlah bentuk protes apalagi anti terhadap PSSI
kepengurusan masa bakti 2016 – 2020. Keputusan JMFC murni sebagai langkah
introspeksi diri ke dalam manajemen JMFC yang dikelola PT HM Jakarta Sportindo, yang menaungi tim
putra dan putri JMFC.
“Ini bukan
protes terhadap PSSI. Justru kami mendukung penuh langkah PSSI pimpinan Bapak
Edy Rahmayadi dalam melakukan pembenahan sepakbola Indonesia agar lebih berprestasi,
profesional dan bermartabat. Kami mundur dan bubar, semata-mata untuk
konsolidasi agar di masa mendatang lebih siap dan profesional tampil di kancah
sepakbola Indonesia,”
ujar Heru.
Tubagus Adhi menambahkan, JMFC ingin
lebih baik lagi dalam segala sektor ketika kembali ke pangkuan PSSI. "Kami
mundur selangkah untuk maju empat langkah. Sekarang JMFC mengundurkan diri dari
keanggotaan di PSSI, namun bukan berarti kami tidak akan berkiprah kembali di
persepakbolaan nasional," jelasnya.
Dengan
keluarnya keputusan ini maka manajemen JMFC tidak akan mengikutsertakan tim
sepakbola putra dan putrinya dalam seluruh kegiatan sepakbola nasional termasuk
yang diadakan oleh PSSI. Manajemen JMFC juga tidak akan terlibat dalam berbagai
kegiatan supporting sepakbola. Keputusan ini sudah disampaikan kepada PSSI,
stakeholder sepakbola, rekan-rekan media, dan internal JMFC.
Saat ini, manajemen JMFC mempertimbangkan semakin sulitnya
atau bahkan sudah tiadanya lagi ruang bagi pergerakan sepakbola amatir
sebagaimana dimensi keterlibatan tim putra dan putri Jakarta Matador sekarang
ini. Ketiadaan ruang gerak yang membuat manajemen JMFC memutuskan untuk
membubarkan diri.
“Manajemen PT HM Jakarta Sportindo
dan manajemen JMFC tentunya selalu mendukung PSSI, mengapresiasi kepengurusan
PSSI 2016-2020 dibawah kepemimpinan bapak Edy Rahmayadi,” papar Heru
Pujihartono, yang selama tujuh tahun ini membesarkan JMFC dengan dukungan dana
dari perusahaan kateringnya, Nendia Primarasa.
Hilang
sudah sebauh kekuatan potensial yang tumbuh dengan semangat besar menata dan
meniti sepakbola profesional dari tingkat bawah itu mulai tahun 2017 lenyap. Namun
semangat dan kecintaan Heru pada olahraga, khususnya sepakbola, tidak padam.
Pintu untuk kembali tetap terbuka dalam bentuk dan cara lain dengan semangat
lebih baik. (COI-1) ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar