Oleh: Gungde Ariwangsa SH
Sumber Asli -- C0I - Ada
rasa kaget ketika di WhatApps ada pesan
dari rekan wartawan media ibukota yang menyatakan ingin mengutip tulisan saya
yang bertajuk: “Asian Games 2018: Pekan Penentua”. Ketika saya jawab silakan
saja sepanjang dianggap layak, dia menambahkan daftar pertanyaan. Salah satunya
menyangkut tentang profesianlisme kerja
Panitia Pelaksana Asian Games XVIII/2018 (Inasgoc). Menyangkut masalah ini saya
agak hati-hati untuk memberikan jawaban karena sedikit sensitif.
Pasalnya, penampilan heroik para atlet Indonesia dalam membela nama bangsa
dan negara telah menghadirkan penilaian Inasgoc
sudah bekerja secara profesional, sempurna dan sukses. Memberikan
pernyataan yang sedikit berbeda pasti akan mendatangkan serangan balik alias
bisa kena bully. Namun akhirnya saya memutuskan tetap memberikan pendapat yang
berbeda berdasarkan pantuan saya selama ini. Baik sebelum dan saat perhelatan
olahraga akbar Asia yang diikuti 45 negara itu
berlangsung.
Secara umum kerja Inasgoc sudah dapat dikatakan sesuai
dengan harapan. Tetapi bila
dikatakan profesional dan sempurna tentu masih bisa diperdebatkan. Di tengah
terpaan gelombang sukses para pahlawan olahraga Indonesia memenuhi target
meraih 16 medali emas dan menembus posisi 10 besar Asia, ada titik-titik noda
pelaksanaan yang berusaha disimpan menjadi rahasia sehingga hanya terdengar
sayup-sayup di permukaan.
Titik noda yang tidak
bisa dibendung sehingga mencuat ke permukaan tentunya masalah penjualan dan
penyediaan tiket upacara pembukaan dan penutupan serta menonton pertandingan.
Sudah begitu dalam pelayanan untuk kenyamanan menonton bagi yang sudah memiliki
tiket juga jauh dari memuaskan. Banyak penonton yang memiliki tiket tidak
mendapat tempat sesuai dengan yang tercantum dan bahkan untuk masuk tempat
pertanding juga bermasalah.
Bergeloranya
masyarakat Indonesia untuk memberikan dukungan kepada para atlet membuat
Inasgoc kedodoran dalam masalah tiket ini. Antusiasme masyarakat yang merupakan
salah satu pencerminan dari rasa nasionalisme ini dijawab dengan kinerja yang
buruk dalam masalah tiketing. Jawaban yang bisa menimbulkan kekecewaan bukan
saja bagi masyarakat negeri sendiri namun juga para suporter dari luar negeri
yang ingin memberikan dukungannya kepada para atletnya masing-masing.
Kekisruhan dalam
acara pembukaan dan juga dalam pertandingan bulutangkis, voli dan beberapa
cabang lainnya tidak menjadi pelajaran bagi Inasgoc untuk melakukan perbaikan.
Munculah keanehan ketika perburuan tiket upacara penutupan dibuka. Masyarakat
dikagetkan ketika tiket langsung habis begitu pembelian melalui online dibuka.
Bisa jadi itu karena kegairahan masyawarakat yang begitu
besar untuk menonton upacara penutupan di Stadion Utama Gelora Bung Karno,
Senayan, Jakarta,
Minggu (2/9/2018). Tiket yang disediakan sekitar 60.000 buah akan langsung
ludes bila yang membutuhkan jutaan orang. Alasan ini bisa diterima kalau saja
tidak muncul kabar, Inasgoc memberikan hadiah tiket kepada para pejabat.
Langkah tersebut langsung dicium Komisi Pemberantasan
Kporupsi (KPK). Lembaga ini langsung memperingatkan, hadiah tiket ke pejabat
itu merupakan gratifikasi. Pejabat yang menerimanya diminta untuk mengembalikan
ke KPK.
Selain masalah tiket yang mencuat di antara gelombang tinggi
prestasi atlet Indonesia
sebelumnya sempat muncul tentang ketidakprosionalan Inasgoc dalam mengatur
kamar untuk atlet di perkampungan atlet. Ada
atlet Indonesia
yang tidak kebagian kamar sehingga tidur di karpet, kemudian yang sudah masuk
perkampungan dipaksa ke luar pindah ke hotel. Keluhan tentang kotor dan
sempitnya kamar juga muncul dari atlet luar negeri.
Kemudian dalam masalah transportasi, jadwal kedatangan
kendaraan sering tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Terpaksa ada yang
langsung memesan transportasi umum online karena dikejar waktu.
Dalam masalah isi
perut juga ada keluhan. Dari penuturan seorang ofisial atlet yang mendapat
tempat di perkampungan atlet Kemayoran terkuak keanehan untuk urusan konsumsi
ini. Dia harus mengambil makanan di JCC, Senayan yang jaraknya cukup jauh dari
Kemayoran.
Terbetik juga kecurigaan adanya penjualan ID Card Asian
Games. Yang mengagetkan tentunya soal keamanan. Ramai beredar bahwa ada
kehilangan laptop di Main Press Centre yang dialami delegasi asal Jepang. Ini
sempat menimbulkan kekhawatiran akan menjadi catatan bagi Indonesia saat Jepang melaksanakan
Olimpiade 2020 dan Asian Games 2022.
Kasus ini tersimpan sehingga menutupi kekurangan kinerja
Inasgoc. Tidak ada pernyataan permintaan maaf dari Inasgoc. Jangan minta maaf,
menjelaskan kasus itu agar terang benderang sehingga tidak menimbulkan citra
buruk bagi bangsa ini juga tidak dilakukan.
Saat pesta kadang kekuarangan yang ada ditutupi demi menjaga
nama baik pelaksana pesta. Juga agar
kemeriahan dan keramaian pesta tidak terganggu. Tetapi demi meraih yang terbaik
segala kekuarangan tidaklah bisa ditutupi. Menyimpan hal busuk bukan saja tidak
sehat namun bisa menularkan penyakit ketidakburukan dikemudian hari.
Bukankah pepatah menyatakan,
sepandai-pandainya menyimpan bangkai maka akan bau juga. Aada juga kata bijak
Jawa yang berbunyi Becik Ketitik Olo Ketoro. ***
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar