![]() |
| Poin Kejurnas sampai seri 6 |
Sumber Asli -- C0I - JAKARTA:
Kredibilitas Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (PP IMI) diuji dalam
menentukan juara nasional kelas ITCR Max Indonesian Sentul Series Of Motorsport
(ISSOM) 2019. Pasalnya ada dua pebalap, Alvin Bahar dan Haridarma Manoppo yang
bersaing untuk meraih gelar itu. Langkah PP IMI sangat dinantikan mengingat akan
terlihat apakah keputusan diambil dengan mengacu pada Peraturan Teknik
Perlombaan Balap Mobil ITCC atau justru mengabaikan aturan tersebut.
Keputusan PP IMI akan menentukan pula apakah ISSOM yang
sudah sukses dalam penyelenggaraan juga ditunjang tanpa ada ganjalan dalam
menentukan prestasi pebalap.
Putaran final ISSOM yang digelar di Sirkuit Jalan Raya di
kawasan Serpong, Tangerang Selatan, berlangsung sukses akhir pekan lalu sukses.
Tonsco Club yang dipimpin General Manager Marketing Sentul Internasional
Sirkuit, Lola Moenek, sukses sebagai pelaksana perlombaan Street Circuit ini.
Namun pemcapaian itu seperti ada ganjalan dengan belum
adanya kepastian untuk juara nasional
kelas ITCR Max. Juara belum
diumumkan karena harus menunggu keputusan resmi dari PP IMI. Sedianya
juara nasional sudah diketahui usai lomba putaran terakhir dan langsung
diumumkan di akhir lomba setelah Haridarma (TTI) juara putaran terakhir ini
diikuti Alvin Bahar (Honda Racing Indonesia) dan Demas Agil (TTI).
Tapi, lantaran Haridarma didiskualifikasi pada putaran 4,
ISSOM Night Race, September lalu, gelar juara nasional itu pun tertahan. Secara
penghitungan poin jika merujuk pada Buku Peraturan Balap Mobil IMI Edisi 2019,
di halaman 53, poin 3 soal Peraturan Teknik Perlombaan Balap Mobil ITCC,
tertulis jelas 'Peserta yang terbukti melanggar peraturan teknik ini akan
didiskualifikasi, dan semua poin kejurnasnya pada musim balap yang berjalan
yang dicapai sampai saat terjadinya pelanggaran otomastis dihapus'
Jika panitia lomba taat peraturan, jelas Alvin Bahar yang
pantas juara nasional karena poin Alvin hingga finis runner up di putaran
terakhir adalah 73, sementara Haridarma setelah dihapus poinnya karena
diskualifikasi menjadi 44 angka.
Alvin sendiri
kepada media mengaku kalau ia belum merasa juara nasional. "Kalau ikut
buku peraturan, poin saya paling tinggi, tapi kan belum ketok palu dari PP IMI.
Tim panel banding memang sudah memberikan rekomendasi kepada PP IMI. Tapi, saya
masih menunggu keputusan PP IMI apakah hitungan poin sesuai buku merah atau
mengikuti rekomendasi tim panel banding. Saya sih santai aja soal gelar juara
nasional itu. Siapa pun juara, itu hak PP IMI memutuskan," jelas Alvin
dalam perbincangan dengan media usai lomba akhir pekan lalu.
Memet Djumhana,
Direktur TTI saat menghubungi media, Selasa (3/2) mengklaim kalau Haridarma
sudah juara nasional. Ia juga mengatakan kalau apa yang diberitakan media soal
Alvin juara nasional menurut buku peraturan, itu tak benar. "Haridarma kok
yang sah juara nasional, karena MC kan sudah mengumumkan dia juara nasional
setelah lomba putaran terakhir di sirkuit. Darimana dasarnya Alvin yang juara?
Kalau itu diakui mereka, jelas tak benar. Haridarma kan yang paling banyak
juara di setiap seri. Coba saja hubungi pihak IMI, Pak Jeffri JP selaku Sekjen
IMI dan minta penjelasan," tegas Memet.
Jeffri JP ketika
dikontak hanya menjawab singkat, "Tunggu keputusan dari Olahraga Mobil. Keputusannya
next week ya. Thanks," begitu jawaban Jeffri JP pada Selasa (3/12) sore.
Artinya, memang juara nasional kelas ITCR Max ini belum diputuskan PP IMI dan
kita masih harus menunggu hingga diumumkan langsung pihak IMI.
Lola Moenek yang dikontak media, Kamis (5/12) malam, mengaku
tak mau ikut campur dengan polemik ini karena itu urusan panel banding dan PP
IMI sebagai pengambil keputusan. "Kami hanya penyelenggara dan kami
berusaha agar semua sesuai aturan yang sudah ditetapkan IMI melalui 'Buku
Merah' alias buku peraturan yang dikeluarkan PP IMI. Jadi, biar IMI yang
memutuskan semua. Semoga keputusan bisa diberikan yang seadil-adilnya dan
sesuai dengan peraturan yang berlaku," harap Lola.
Senada dengan Lola, Anton 'Ceper' Chaidir yang sejak
September lalu mengundurkan diri dari Komisi Teknik Mobil IMI Pusat pun
menyatakan tak mau banyak komentar soal polemik ini karena sudah bukan
ranahnya. "Buat saya, lebih baik kita menunggu saja keputusan PP IMI
apakah mau sesuai peraturan atau bagaimana, itu wewenang PP IMI," kata
Ceper, Jumat (6/12).
Dalam pemberitaan media sebelumnya, Ceper menyatakan sangat
menyayangkan adanya kasus seperti ini karena banyak hal yang terasa janggal
dari Keputusan Tim Panel Banding ISSOM. Dalam pemberitaan yang merupakan cerita
langsung Ceper kepada media, ia menyatakan jika peraturan di buku merah yang
dikeluarkan IMI tak bisa dijalankan, ya lebih baik tak usah dipakai lagi
sebagai pedoman.
Cerita Disk Tiga Pembalap Toyota
Usai gelaran ISSOM Night Race, 1 September lalu, Ada tiga pembalap Kejurnas ITCR Max yang memacu kendaraan Toyota kena
diskualifikasi. Selain pembalap TTI, Haridarma, juga ada pembalap privateer
berusia 15, Mirza Putra Utama dengan Toyota
Yaris-nya, dan Abraham 'Abi' Nadeak dari
tim Smart S Racing yang mengendarai Toyota Vios.
Tiga pemacu Toyota
ketika itu didiskualifikasi karena dianggap menggunakan parts intake manifold
yang tak sesuai regulasi pada kendaraan mereka. Setelah pengumuman ketiga
pembalap kena diskualifikasi, tentu saja otomatis poin mereka dari seri pertama
hingga seri IV ISSOM Night Race dihapus.
Haridarma dan TTI ketika itu melakukan banding. Tim panel
banding yang dipimpin Poedio Bintoro pun menolak banding TTI, tapi keputusannya
hanya menghapus poin Haridarma di putaran Night Race, sedangkan poin seri 1, 2
dan 3 aman. Ini saja sudah tak cocok dengan buku peraturan balap mobil IMI di
halaman 53 poin 3 yang mengharuskan seluruh poin dari seri yang sudah
dijalankan dihapus.
Keanehan yang lain adalah, kedua pembalap yang juga kena
disk, Mirza dan Abi poinnya dihapus sejak seri pertama hingga keempat. Hanya
Haridarma yang diistimewakan dengan hanya dihapus poin seri 4. Apa dasar tim
panel banding membuat keputusan seperti ini? Janggal memang, seperti penuturan
Ceper.
Jelang putaran terakhir di sirkuit jalan raya di kawasan
Serpong, mencuat kabar kalau panel banding kembali memutuskan menghapus poin
seri 1, 2, 3 dan 4 yang sudah dicapai Haridarma karena ingin menjunjung tinggi
regulasi yang mereka buat. Tentunya ini fair.
Lantas, siapa sesungguhnya yang berhak atas juara nasional
2019? Ketika pabrikan Toyota
mengklaim sebagai juara nasional resmi dan Honda pun merasa juara nasional
sesuai regulasi yang berlaku, jelas ini menciptakan polemik di kalangan
komunitas balap mobil. Sejak 2004, pembalap ISSOM yang kena disk, poinnya di
semua race yang sudah berjalan otomatis dihapus.
Lihat saja pembalap Luckas Dwinanda yang kehilangan seluruh
poin saat memimpin klasemen kelas 1400 ITCC Kejurnas pada November 2016 silam.
Luckas harus menerima hukuman pahit itu karena menggunakan ilegal block engine.
Alhasil gelar juara nasional pun lenyap. Baru kali ini ada pembalap (Haridarma)
yang mendapat perlakukan istimewa dengan hanya hilang poin tepat diseri
kedapatan memakai parts tak sesuai regulasi (seri 4).
IMI sebagai regulator harus hati-hati sekali dalam memutuskan
hal ini. Jika saja IMI lebih cepat dalam memutuskannya sejak tuntas lomba
putaran akhir, mungkin saja tak akan terjadi kebingungan panjang ini. Tapi,
lantaran ada jedah waktu, timbullah polemik. Belum lagi beredar kabar, Siapa
juara nasional 2019 akan diumumkan saat IMI Awards 18 Desember nanti di Jakarta. Waktu menunggu
pun jadi makin lama.
IMI sebagai organisasi otomotif tertinggi diharapkan bijak
menyikapi persoalan ini yang menyangkut peraturan yang mereka buat sendiri.
Jika IMI salah mengambil keputusan, bisa menjadi bumerang buat nasib kejurnas
di kemudian hari. Pasalnya, kesalahan yang dilakukan jika sampai terjadi, tentu
akan jadi pegangan buat pembalap lain jika nantinya terjadi hal yang sama pada
mereka seperti yang dialami Haridarma.
Belajar dari Kasus Amstrong
Pembalap sepeda Lance Amstrong ketika kena diskualifikasi
lantaran dituduh melakukan doping, 7 gelar Tour de France-nya sejak 1999-2005
dicabut Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI).
Tak cuma itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) pun ikut
mencabut medali perunggu yang diraih Amstrong di Olimpiade Sydney 2000.
Kejadian Amstrong dan Haridarma memang beda. Tapi, teladan dari badan Olahraga
international itu adalah bagaimana menegakkan dan tunduk terhadap peraturan
yang mereka buat sendiri tanpa ada pengaruh dari pihak mana pun.
So, bersabar ya buat dua pembalap hebat Alvin Bahar dan
Haridarma Manoppo. Dua pembalap ini adalah sahabat kental baik di dalam maupun
luar lintasan. Keduanya pun dipastikan akan sportif menerima apa pun keputusan
PP IMI yang tentu saja harus sesuai dengan regulasi yang berlaku. ***
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar