COIGA BARU

Menu1

Pencarian

Jumat, 06 Desember 2019

Alvin Atau Haridarma Juara Nasional? Keputusan IMI Dinantikan

Poin Kejurnas sampai seri 6
 Sumber Asli -- C0I - JAKARTA: Kredibilitas Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (PP IMI) diuji dalam menentukan juara nasional kelas ITCR Max Indonesian Sentul Series Of Motorsport (ISSOM) 2019. Pasalnya ada dua pebalap, Alvin Bahar dan Haridarma Manoppo yang bersaing untuk meraih gelar itu. Langkah PP IMI sangat dinantikan mengingat akan terlihat apakah keputusan diambil dengan mengacu pada Peraturan Teknik Perlombaan Balap Mobil ITCC atau justru mengabaikan aturan tersebut.
Keputusan PP IMI akan menentukan pula apakah ISSOM yang sudah sukses dalam penyelenggaraan juga ditunjang tanpa ada ganjalan dalam menentukan  prestasi pebalap.

Putaran final ISSOM yang digelar di Sirkuit Jalan Raya di kawasan Serpong, Tangerang Selatan, berlangsung sukses akhir pekan lalu sukses. Tonsco Club yang dipimpin General Manager Marketing Sentul Internasional Sirkuit, Lola Moenek, sukses sebagai pelaksana perlombaan Street Circuit ini.

Namun pemcapaian itu seperti ada ganjalan dengan belum adanya kepastian  untuk juara nasional kelas ITCR Max. Juara belum diumumkan karena harus menunggu keputusan resmi dari PP IMI. Sedianya juara nasional sudah diketahui usai lomba putaran terakhir dan langsung diumumkan di akhir lomba setelah Haridarma (TTI) juara putaran terakhir ini diikuti Alvin Bahar (Honda Racing Indonesia) dan Demas Agil (TTI).

Tapi, lantaran Haridarma didiskualifikasi pada putaran 4, ISSOM Night Race, September lalu, gelar juara nasional itu pun tertahan. Secara penghitungan poin jika merujuk pada Buku Peraturan Balap Mobil IMI Edisi 2019, di halaman 53, poin 3 soal Peraturan Teknik Perlombaan Balap Mobil ITCC, tertulis jelas 'Peserta yang terbukti melanggar peraturan teknik ini akan didiskualifikasi, dan semua poin kejurnasnya pada musim balap yang berjalan yang dicapai sampai saat terjadinya pelanggaran otomastis dihapus'

Jika panitia lomba taat peraturan, jelas Alvin Bahar yang pantas juara nasional karena poin Alvin hingga finis runner up di putaran terakhir adalah 73, sementara Haridarma setelah dihapus poinnya karena diskualifikasi menjadi 44 angka.

Alvin sendiri kepada media mengaku kalau ia belum merasa juara nasional. "Kalau ikut buku peraturan, poin saya paling tinggi, tapi kan belum ketok palu dari PP IMI. Tim panel banding memang sudah memberikan rekomendasi kepada PP IMI. Tapi, saya masih menunggu keputusan PP IMI apakah hitungan poin sesuai buku merah atau mengikuti rekomendasi tim panel banding. Saya sih santai aja soal gelar juara nasional itu. Siapa pun juara, itu hak PP IMI memutuskan," jelas Alvin dalam perbincangan dengan media usai lomba akhir pekan lalu.

Memet Djumhana, Direktur TTI saat menghubungi media, Selasa (3/2) mengklaim kalau Haridarma sudah juara nasional. Ia juga mengatakan kalau apa yang diberitakan media soal Alvin juara nasional menurut buku peraturan, itu tak benar. "Haridarma kok yang sah juara nasional, karena MC kan sudah mengumumkan dia juara nasional setelah lomba putaran terakhir di sirkuit. Darimana dasarnya Alvin yang juara? Kalau itu diakui mereka, jelas tak benar. Haridarma kan yang paling banyak juara di setiap seri. Coba saja hubungi pihak IMI, Pak Jeffri JP selaku Sekjen IMI dan minta penjelasan," tegas Memet.

Jeffri JP ketika dikontak hanya menjawab singkat, "Tunggu keputusan dari Olahraga Mobil. Keputusannya next week ya. Thanks," begitu jawaban Jeffri JP pada Selasa (3/12) sore. Artinya, memang juara nasional kelas ITCR Max ini belum diputuskan PP IMI dan kita masih harus menunggu hingga diumumkan langsung pihak IMI.

Lola Moenek yang dikontak media, Kamis (5/12) malam, mengaku tak mau ikut campur dengan polemik ini karena itu urusan panel banding dan PP IMI sebagai pengambil keputusan. "Kami hanya penyelenggara dan kami berusaha agar semua sesuai aturan yang sudah ditetapkan IMI melalui 'Buku Merah' alias buku peraturan yang dikeluarkan PP IMI. Jadi, biar IMI yang memutuskan semua. Semoga keputusan bisa diberikan yang seadil-adilnya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku," harap Lola.

Senada dengan Lola, Anton 'Ceper' Chaidir yang sejak September lalu mengundurkan diri dari Komisi Teknik Mobil IMI Pusat pun menyatakan tak mau banyak komentar soal polemik ini karena sudah bukan ranahnya. "Buat saya, lebih baik kita menunggu saja keputusan PP IMI apakah mau sesuai peraturan atau bagaimana, itu wewenang PP IMI," kata Ceper, Jumat (6/12).

Dalam pemberitaan media sebelumnya, Ceper menyatakan sangat menyayangkan adanya kasus seperti ini karena banyak hal yang terasa janggal dari Keputusan Tim Panel Banding ISSOM. Dalam pemberitaan yang merupakan cerita langsung Ceper kepada media, ia menyatakan jika peraturan di buku merah yang dikeluarkan IMI tak bisa dijalankan, ya lebih baik tak usah dipakai lagi sebagai pedoman.

Cerita Disk Tiga Pembalap Toyota

Usai gelaran ISSOM Night Race, 1 September lalu, Ada tiga pembalap Kejurnas ITCR Max yang memacu kendaraan Toyota kena diskualifikasi. Selain pembalap TTI, Haridarma, juga ada pembalap privateer berusia 15, Mirza Putra Utama dengan Toyota Yaris-nya, dan Abraham 'Abi' Nadeak  dari tim Smart S Racing yang mengendarai Toyota Vios.

Tiga pemacu Toyota ketika itu didiskualifikasi karena dianggap menggunakan parts intake manifold yang tak sesuai regulasi pada kendaraan mereka. Setelah pengumuman ketiga pembalap kena diskualifikasi, tentu saja otomatis poin mereka dari seri pertama hingga seri IV ISSOM Night Race dihapus.

Haridarma dan TTI ketika itu melakukan banding. Tim panel banding yang dipimpin Poedio Bintoro pun menolak banding TTI, tapi keputusannya hanya menghapus poin Haridarma di putaran Night Race, sedangkan poin seri 1, 2 dan 3 aman. Ini saja sudah tak cocok dengan buku peraturan balap mobil IMI di halaman 53 poin 3 yang mengharuskan seluruh poin dari seri yang sudah dijalankan dihapus.

Keanehan yang lain adalah, kedua pembalap yang juga kena disk, Mirza dan Abi poinnya dihapus sejak seri pertama hingga keempat. Hanya Haridarma yang diistimewakan dengan hanya dihapus poin seri 4. Apa dasar tim panel banding membuat keputusan seperti ini? Janggal memang, seperti penuturan Ceper.

Jelang putaran terakhir di sirkuit jalan raya di kawasan Serpong, mencuat kabar kalau panel banding kembali memutuskan menghapus poin seri 1, 2, 3 dan 4 yang sudah dicapai Haridarma karena ingin menjunjung tinggi regulasi yang mereka buat. Tentunya ini fair.

Lantas, siapa sesungguhnya yang berhak atas juara nasional 2019? Ketika pabrikan Toyota mengklaim sebagai juara nasional resmi dan Honda pun merasa juara nasional sesuai regulasi yang berlaku, jelas ini menciptakan polemik di kalangan komunitas balap mobil. Sejak 2004, pembalap ISSOM yang kena disk, poinnya di semua race yang sudah berjalan otomatis dihapus.

Lihat saja pembalap Luckas Dwinanda yang kehilangan seluruh poin saat memimpin klasemen kelas 1400 ITCC Kejurnas pada November 2016 silam. Luckas harus menerima hukuman pahit itu karena menggunakan ilegal block engine. Alhasil gelar juara nasional pun lenyap. Baru kali ini ada pembalap (Haridarma) yang mendapat perlakukan istimewa dengan hanya hilang poin tepat diseri kedapatan memakai parts tak sesuai regulasi (seri 4).

IMI sebagai regulator harus hati-hati sekali dalam memutuskan hal ini. Jika saja IMI lebih cepat dalam memutuskannya sejak tuntas lomba putaran akhir, mungkin saja tak akan terjadi kebingungan panjang ini. Tapi, lantaran ada jedah waktu, timbullah polemik. Belum lagi beredar kabar, Siapa juara nasional 2019 akan diumumkan saat IMI Awards 18 Desember nanti di Jakarta. Waktu menunggu pun jadi makin lama.

IMI sebagai organisasi otomotif tertinggi diharapkan bijak menyikapi persoalan ini yang menyangkut peraturan yang mereka buat sendiri. Jika IMI salah mengambil keputusan, bisa menjadi bumerang buat nasib kejurnas di kemudian hari. Pasalnya, kesalahan yang dilakukan jika sampai terjadi, tentu akan jadi pegangan buat pembalap lain jika nantinya terjadi hal yang sama pada mereka seperti yang dialami Haridarma.

Belajar dari Kasus Amstrong

Pembalap sepeda Lance Amstrong ketika kena diskualifikasi lantaran dituduh melakukan doping, 7 gelar Tour de France-nya sejak 1999-2005 dicabut Persatuan Balap Sepeda Internasional (UCI).

Tak cuma itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) pun ikut mencabut medali perunggu yang diraih Amstrong di Olimpiade Sydney 2000. Kejadian Amstrong dan Haridarma memang beda. Tapi, teladan dari badan Olahraga international itu adalah bagaimana menegakkan dan tunduk terhadap peraturan yang mereka buat sendiri tanpa ada pengaruh dari pihak mana pun. 

So, bersabar ya buat dua pembalap hebat Alvin Bahar dan Haridarma Manoppo. Dua pembalap ini adalah sahabat kental baik di dalam maupun luar lintasan. Keduanya pun dipastikan akan sportif menerima apa pun keputusan PP IMI yang tentu saja harus sesuai dengan regulasi yang berlaku.  ***


***
-->

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KAMI dari COI melayani pembuatan PRESS RELEASE atau TULISAN OLAHRAGA dan siap membantu menggelar JUMPA PERS dengan mengundang wartawan media cetak dan televisi sesuai pilihan Anda. CP: 087783358784 atau email ke aagwaa@yahoo.com

TERPOPULER COI