Oleh: Gungde Ariwangsa SH
Sumber Asli -- C0I - SEA Games kembali
hadir di Filipina. Sebelum menjadi tuan rumah SEA Games XXX/2019, Filipina sempat menggelar pesta olahraga
antarnegara Asia Tenggara itu tahun 1981, 1991 dan 2005. Indonesia mengenyam
pengalaman berbeda-beda mulai dari manis, menegangkan dan pahit dalam tiga kali
penampilan sebelumnya di Filipina. Lalu bagaimana kali ini?
Ketika pertama
kali datang ke Filipinan tahun 1981, Indonesia masih menjadi kekuatan perkasa
di kancah olahraga Asia Tenggara. Kontingen Merah Putih masih ditakuti setelah
terus menjadi juara umum SEA Games sejak tampil pertama kali tahun 1977 di
Kuala Lumpur. Di Filipina 1981, Indonesia meneruskan tradisi veni, vidi, vici –
datang, bertanding dan menang.
Indonesia sukses
memperpanjang rekor gelar juara umum tanpa ada saingan berarti. Pasukan Garuda
menjadi yang terkuat dengan raihan 85 medali emas. Unggul jauh atas Thailand
yang berada di posisi kedua dengan 62 emas. Filipina menghibur diri di urutan
tiga dengan 55 emas. Pengalaman manis buat Indonesia dalam bertamu untuk
pertama kalinya ke Filipina.
Saat datang
kembali ke Filipina tahun 1991, Indonesia harus melakoni pengalaman yang
menegangkan. Kekuatan Indonesia tidak lagi menakutkan setelah untuk pertama
kalinya kehilangan gelar juara umum di SEA Games Bangkok 1985. Tahun itu
Thailand mampu memanfaatkan keuntungannya sebagai tuan rumah untuk merebut
juara umum.
Memang Indonesia
mampu lagi merebut juara umum saat menjadi tuan rumah SEA Games 1987 dan ketika
bertandang ke Malaysia tahun 1989. Tetapi ketika berlaga di SEA Games 1991,
kekuatan Indonesia mulai mendapat ancaman dari Thailand dan Filipina. Kekuatan
Filipina memang menggiriskan kala itu dengan kemampuan menguasai cabang
olahraga tambang emas seperti atletik, renang dan menembak.
Dengan
memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah, Filipina benar-benar mengancam kekuatan
Indonesia. Terjadilah persaingan ketat dalam perburuan emas antara Indonesia
dan Filipina. Posisi Indonesia sempat kritis ketika perolehan emas dengan
Filipina hanya terpaut satu buah. Indponesia 91, Filipina 90. Lomba tinggal
menyisakan lari marathon.
Kalau emas marathon
putri jatuh ke tangan Filipina maka gelar
juara umum akan lepas dari Indonesia. Pasalnya Filipina unggul dalam raihan
perak. Kehilangan gelar juara umum seperti di Bangkok membayangi kontingen
Indonesia. Namun pada detik-detik akhir persaingan, pelari marathon Maria
Lawalata menjadi pahlawan Indonesia.
Dia sukses merebut emas ke-92 untuk Indonesia. Hebatnya
lagi dia menggagalkan pelari Filipina merebut emas. Indonesia pun selamat dari
kehilangan gelar juara umum. Walaupun demikian ini sudah menjadi tanda bahaya
bagi Indonesia.
Sedangkan saat
hadir untuk ketiga kalinya di Filipina pada SEA Games 2005, Indonesia harus
menderita pukulan pahit. Bahkan memalukan. Bukan saja tidak mampu merebut juara
umum yang sudah berkali-kali lepas ke tangan Thailand, Malaysia, dan Vietnam
namun juga untuk pertama kalinya Indonesia terlempar dari posisi tiga besar.
Indonesia
terpuruk ke urutan empat di Filipina. Juara
umum diraih Filipina. Setelah itu Thailand di urutan dua. Vietnam yang tahun
2003 menjadi juara umum, menempati urutan tiga.
Setelah terpuruk
di Filipina, kekuatan Indonesia tidak diperhitungkan lagi. Setelah sempat merebut
juara umum lagi saat menjadi tuan rumah 2011, Indonesia terus merosot. Kini Indonesia
berada di urutan lima.
Dengan posisi
terpuruk itulah kini Indonesia hadir kembali di Filipina. Akankah
Filipina memberikan kenangan manis atau justru memperpanjang kepahitan dan
keterpurukan Indonesia?
Jawaban sudah bisa ditebak karena Indonesia belum menemukan kunci
untuk bangkit kembali. Yang dilakukan justru lari dari kenyataan dengan
mengabaikan SEA Games sebagai sasaran utama sebelum melangkah ke Asian Games
dan juga Olimpiade.
Lihat saja jawaban yang muncul. SEA Games itu semula disebut
sebagai sasaran antara. Lalu berubah lagi menjadi batu pijakan. Ternyata olahraga diurus dengan kebingungan
sehingga prestasi Indonesia makin membingungkan. ***
* Gungde
Ariwangsa SH – wartawan suarakarya.id, Ketua Siwo PWI Pusat. WA: 087783358784.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar