Sumber Asli -- C0I -
Sejumlah
kalangan mendesak pemerintah untuk segera mengembalikan fungsi komplek
gelanggang olahraga (Gelora) Bung Karno (GBK) Senayan Jakarta sebagai
aset negara yang mendukung prestasi olahragawan-olahragawan Indonesia,
seperti tujuan awalnya yang diinginkan oleh pendirinya Presiden pertama
Ir Soekarno. Ironis, di tengah keterpurukan prestasi olahraga kita saat
ini, keberadaan GBK tidak mendukung proses pembinaan prestasi atlet.
Sebab, tarif sewa berbagai sarana dan prasarana olahraga di GBK terlalu
mahal, sehingga memberatkan para pengurus induk organisasi yang akan
melakukan berbagai kegiatan pembinaan prestasi atletnya. Tingginya tarif
sewa fasilitas latihan menjadi kendala serius, dan tentu saja berdampak
pada pencapaian prestasi para atlet.
"Badan Pengelola GBK terlalu komersil, sewa untuk latihan para atlet
pelatnas dan pelatda DKI di GBK sangat mahal. Hal ini berarti sudah
melenceng dari fungsi awalnya. GBK dibuat oleh Presiden Soekarno untuk
menjadi pusat kegiatan olahraga yang menunjang pencapaian prestasi,"
ujar Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Panahan Indonesia
(Pengprov Perpani) DKI Jakarta, Didi Oerif Affandi, Minggu (11/11).
Menurut Didi, Badan Pengelola GBK mengelola aset negara yang nilai
sewanya sangat besar. Namun ia mendengar informasi bahwa hanya 20 persen
saja pendapatan sewa dari berbagai fasilitas yang ada di sana disetor
ke negara, Sekretaris Negara (Sekneg). Sedangkan 80 persennya dari
ratusan miliar per tahun-nya tidak transparan pengelolaannya.
"Sejak pengelolaan pindah dari yayasan ke badan pengelola, komplek GBK
dikelola secara komersil. Tidak lagi peduli terhadap pembinaan prestasi
olahraga kita. Pantaslah jika prestasi Indonesia terpuruk. Bahkan, saya
mendengar untuk kegiatan Ulang Tahun KONI Pusat tidak bisa menggunakan
fasilitas di GBK karena untuk kegiatan sebuah bank nasional. Jadi
kegiatan olahraga dikalahkan oleh kepentingan bisnis," kata Didi Oerif
Affandi. Ia mengusulkan agar pengelolaan GBK diserahkan kepada Kantor
Kementeriaan Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) saja.
Mantan petenis meja nasional, Anton Suseno juga prihatin terhadap
melencengnya visi dan misi pengelolaan komplek Gelola Bung Karno yang
mengedepankan pendapatan uang, dan mengkesampingkan pembinaan olahraga.
"Seharusnya Pengelola GBK tetap menomorsatukan kegiatan pembinaan
prestasi olahraga. Sewa untuk kegiatan pembinaan prestasi atlet semurah
mungkin, kalau perlu gratis, disubsidi oleh hasil royalti dari kerja
sama pengelola mal, apartemen, gedung perkantoran, hotel dan lain-lain
yang nilainya ratusan miliar per tahunnya," kata Anton Suseno.
Anggota Komisi X DPR-RI yang membidangi olahraga, Ferdiansyah meminta
kepada pemerintah agar mengevaluasi pengelolaan Gelora Bung Karno,
memberikan perhatian yang besar terhadap pembinaan olahraga nasional.
"Kami setuju agar GBK lebih memperhatikan pembinaan atlet. Sewa untuk
berbagai kegiatan olahraga yang menunjang pencapaian prestasi harus
murah," kata Ferdiansyah.

-
***

depo pulsa terbaru
BalasHapusSejak pengelolaan pindah dari yayasan ke badan pengelola, komplek GBK dikelola secara komersil